Dalam potret masa sebelumnya aku bermimpi.
Mereka yang senantiasa biasa
Bermain api dalam retorika
Melayangkan surat layang berkibar kertas persegi berlayar di langit - langit jingga dengan ekor yang berakar ingatan sukar.
Mencari - cari kekuatan (angin) melayangkan surat kabar, entah itu duka maupun suka. Mereka terbang dengan semangatnya. Menyisir jauh dalam mimpi.
Hai. Bukankah kita persegi, mulai dari empat sisi kita berambisi memilih situasi
Jari telunjuk menunjuk serta tujuan aksi caci maki.
0 komentar:
Posting Komentar