Tidak ada lagi lawan yang berteman. Sahabat hanya sebuah kata perumpamaan makna berikut atau kemudian.
Sama halnya dengan ucapan saksi, yang kemudian secara tidak langsung dieja kembali makna dari hak yang asli.
Sama halnya dengan ucapan saksi, yang kemudian secara tidak langsung dieja kembali makna dari hak yang asli.
Kau beri nama langitmu jingga !
Larikan pena dalam bahasa jiwa
Kau sebut aku dermaga tua
Seiring waktu kau berjaya dimuka
Berayun mengalih dan berdalih makna
Diantara tanda - tanda yang bertanya
Akulah jiwa yang terdera
Jatuh aku serupa semangka
Sembunyikan amarah dibalik hijaunya [dermaga tua]
Mulanya aku ingin jatuh cinta
Pada baris puisi berwarna jingga
Kini hatiku telah berlumut noda
Melihat kau yang begitu angkuh dlm suasana
Mencela kaca jiwa
Dan pergi.
Sudah selagi masih berjaya
Kau sebut aku Tuan gembala
Sebab aksara yang bermuara
Didepan para nona berhati permata
Kau singgung aku bohong demi cinta
Blumbangsat.
Lukisan pena ditangan puan makassar
Dalam media tak berjiwa aku bertengkar
Memohon dan meminta kabar
Wahai kamu sekalian pacar
Lihatlah mataku bersinar
Merindukanmu yang teramat samar.
Berang dimuka penjahat
‘Pecahkan saja gelasnya ! [Biar terdera]’
Sambil lalu kau bermuslihat
[Burung dalam sangkar bermunajat]
Apa hal yang kau sebut laknat
Adalah kamu yang berkhianat
Lari kecil aku memburu surat
Nyatakan diri yang bermatabat.
Bukan hak tapi saksi
Perburuan masa dihari tua
Anak seorang saudagar kaya membela
Dari tuan aku belajar banyak bahasa
Tapi apa daya hatiku lupa sebab luka menganga
Dulu kita anggap sama
Berayun aku menyeberangi desa, kau mengikutinya
Maka sebaliknya
Jika kau beri aku hak pilih, aku ingin kau bersaksi.
Larikan pena dalam bahasa jiwa
Kau sebut aku dermaga tua
Seiring waktu kau berjaya dimuka
Berayun mengalih dan berdalih makna
Diantara tanda - tanda yang bertanya
Akulah jiwa yang terdera
Jatuh aku serupa semangka
Sembunyikan amarah dibalik hijaunya [dermaga tua]
Mulanya aku ingin jatuh cinta
Pada baris puisi berwarna jingga
Kini hatiku telah berlumut noda
Melihat kau yang begitu angkuh dlm suasana
Mencela kaca jiwa
Dan pergi.
Sudah selagi masih berjaya
Kau sebut aku Tuan gembala
Sebab aksara yang bermuara
Didepan para nona berhati permata
Kau singgung aku bohong demi cinta
Blumbangsat.
Lukisan pena ditangan puan makassar
Dalam media tak berjiwa aku bertengkar
Memohon dan meminta kabar
Wahai kamu sekalian pacar
Lihatlah mataku bersinar
Merindukanmu yang teramat samar.
Berang dimuka penjahat
‘Pecahkan saja gelasnya ! [Biar terdera]’
Sambil lalu kau bermuslihat
[Burung dalam sangkar bermunajat]
Apa hal yang kau sebut laknat
Adalah kamu yang berkhianat
Lari kecil aku memburu surat
Nyatakan diri yang bermatabat.
Bukan hak tapi saksi
Perburuan masa dihari tua
Anak seorang saudagar kaya membela
Dari tuan aku belajar banyak bahasa
Tapi apa daya hatiku lupa sebab luka menganga
Dulu kita anggap sama
Berayun aku menyeberangi desa, kau mengikutinya
Maka sebaliknya
Jika kau beri aku hak pilih, aku ingin kau bersaksi.
0 komentar:
Posting Komentar